Mengapa Sebagian Ulama Al-Azhar Berpendapat “Allah di Mana-Mana”? — Telaah dan Tanggapan Berdasarkan Aqidah Salaf

 

Mengapa Sebagian Ulama Al-Azhar Berpendapat “Allah di Mana-Mana”? — Telaah dan Tanggapan Berdasarkan Aqidah Salaf

Al-Azhar Mesir adalah salah satu lembaga Islam tertua dan paling berpengaruh di dunia Islam. Banyak ulama ternama lahir dari institusi ini. Namun, di dalam hal akidah, terutama dalam pertanyaan “Di mana Allah?”, sebagian besar ulama Al-Azhar masa kini menjawab: “Allah ada di mana-mana”.

Pertanyaannya adalah:

  • Mengapa mereka berkata demikian?

  • Apakah itu sesuai dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman salafus shalih?

Mari kita telaah.


🧠 Akar Pandangan: Pengaruh Ilmu Kalam

Sebagian besar ulama Al-Azhar dalam urusan aqidah merujuk kepada manhaj Asy’ariyah, sebuah mazhab teologis yang lahir bukan pada masa salaf, tetapi muncul pada abad ke-3 hijriyah oleh Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (w. 324 H).

📌 Apa yang diyakini Asy’ariyah tentang “di mana Allah?”:

  • Mereka menolak Allah berada di atas langit secara hakiki, karena khawatir itu menyerupakan Allah dengan makhluk.

  • Mereka menakwil ayat-ayat seperti “Istiwa’ di atas ‘Arsy” menjadi “Istawla” (menguasai).

  • Mereka meyakini Allah tidak menempati tempat, dan makna “di atas” hanyalah simbol keagungan.

➡️ Maka, tidak aneh bila para ulama yang terpengaruh oleh teologi Asy’ariyah mengatakan bahwa “Allah ada di mana-mana” dalam arti tidak terikat tempat, bukan dalam makna hakiki.


📚 Contoh Ucapan Ulama Al-Azhar

Beberapa dosen dan alumni Al-Azhar dalam forum atau video sering menyatakan:

“Allah tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan, tidak di kiri. Allah di mana-mana dengan dzat-Nya.”

Atau:

“Allah tidak butuh tempat. Tempat adalah makhluk. Maka tidak boleh dikatakan Allah di atas.”

➡️ Ini adalah bentuk ta’wil (penakwilan) dari ayat-ayat dan hadits tentang istiwa’.


Tanggapan Ahlus Sunnah Berdasarkan Pemahaman Salaf

Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang berpegang kepada pemahaman salaf (sahabat, tabi’in, dan ulama salaf) tidak menerima pandangan bahwa Allah ada di mana-mana, karena:

1. Bertentangan dengan nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ – "Allah beristiwa di atas ‘Arsy." (QS. Thaha: 5)

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ – "Apakah kamu merasa aman terhadap (Allah) yang di langit?" (QS. Al-Mulk: 16)

Hadits Jariyah: “Di mana Allah?” → “Di langit.” → Rasul bersabda: “Bebaskan dia, karena dia beriman.” (HR. Muslim)

🟢 Pemahaman literal (zahir) ayat dan hadits ini menunjukkan Allah di atas langit, bukan di mana-mana.

2. Bertentangan dengan Ijma’ Salaf

Imam Adz-Dzahabi berkata:

“Telah sepakat para ulama salaf bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.”
(Al-‘Uluw li al-‘Aliyy, hlm. 250)

3. Fitrah manusia menengadahkan tangan ke atas ketika berdoa

  • Kalau Allah di mana-mana, mengapa manusia sejak zaman Nabi sampai sekarang berdoa dengan mengangkat tangan ke langit?

  • Nabi pun berdoa demikian di banyak kesempatan (misalnya saat perang Badr).


💡 Kesalahpahaman Tentang “Tempat”

Sebagian ulama kalam menolak Allah berada di atas karena menganggap itu berarti Allah butuh tempat. Padahal:

  • Ahlus Sunnah mengakui Allah di atas langit, di atas ‘Arsy, tanpa membutuhkan tempat.

  • “Di atas” bukan berarti Allah terbatas, karena Allah bukan makhluk.

  • Imam Malik mengatakan:

    “Istiwa’ itu ma’lūm (diketahui), cara (kaif) tidak diketahui, iman kepadanya wajib.”


🔁 Penjelasan Konsep: Allah di atas langit, tapi dekat dengan ilmu-Nya

  • Allah berada di atas langit, tetapi dekat dengan makhluk-Nya melalui ilmu-Nya, penglihatan-Nya, pendengaran-Nya, bukan dengan dzat-Nya menyatu dengan makhluk.

  • Inilah keyakinan para salaf seperti:

    • Imam Abu Hanifah

    • Imam Malik

    • Imam Ahmad

    • Imam Syafi’i (riwayat murid-murid beliau)


📌 Kesimpulan

  • Pandangan bahwa Allah ada di mana-mana berasal dari pendekatan ilmu kalam dan filsafat, bukan dari pemahaman salaf.

  • Mayoritas ulama Al-Azhar menganut Asy’ariyah, yang sering menakwil ayat-ayat tentang sifat Allah demi menjaga “tanzih” (penyucian).

  • Namun, cara salaf lebih selamat, yaitu: mengimani tanpa takwil, tanpa tasybih, tanpa ta’thil, dan tanpa takyif.

  • Maka jawaban yang benar secara syar’i dan salafi:
    Allah berada di atas langit, di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih, dan itu adalah akidah seluruh sahabat dan tabi’in.


📚 Referensi

  1. Shahih Muslim no. 537

  2. Tafsir Ibnu Katsir: QS. Thaha: 5 dan Al-Mulk: 16

  3. Al-‘Uluw li al-‘Aliyy (Imam Adz-Dzahabi)

  4. Syarh Aqidah Thahawiyah (Ibnu Abil ‘Izz)

  5. Majmu’ Fatawa (Ibnu Taimiyyah)

  6. Al-Fiqh Al-Akbar (Abu Hanifah)

  7. At-Tamhid (Ibnu Abdil Barr)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Agama Paling Masuk Akal di Dunia: Tinjauan dari Berbagai Aspek

Memahami Hadis Shahih, Hasan, Dhaif, dan Maudhu

Dzikir Pagi Petang dan Sesudah Shalat Fardhu - Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas