Postingan

Bersyukur: Kunci Hidup Bahagia Menurut Al-Qur’an & Hadits

  Bersyukur: Kunci Hidup Bahagia Menurut Al-Qur’an, Hadits, dan Ulama Salaf Pengertian Bersyukur Bersyukur (الْشُّكْرُ / asy-syukr ) dalam Islam adalah mengakui nikmat Allah, menggunakannya dengan baik, dan memuji Allah atas karunia-Nya. Bersyukur bukan sekadar ucapan lisan, tetapi juga diwujudkan dalam perbuatan dan hati. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: اِذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ "Ingatlah nikmat Allah atas kalian dan apa yang Dia turunkan kepadamu berupa Kitab dan hikmah" (QS. Al-Baqarah: 231). Ayat ini menekankan pentingnya mengenali dan menghargai nikmat Allah, baik berupa hidayah, ilmu, maupun karunia dunia. Bersyukur Dalam Hadits Shahih Rasulullah ﷺ bersabda: مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ "Barangsiapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah" (HR. Abu Dawud, Tirmidzi; shahih). Hadits ini menunjukkan bahwa syukur tidak hanya k...

Doa Kesembuhan Berdasarkan Hadis Shahih

  Doa Kesembuhan Berdasarkan Hadis Shahih dan Penjelasan Ulama Salaf Sakit adalah ujian dari Allah yang bisa menjadi sarana penghapus dosa dan mendekatkan hamba kepada-Nya jika disikapi dengan sabar dan doa. Rasulullah ﷺ mengajarkan berbagai doa untuk memohon kesembuhan, salah satunya adalah doa yang diajarkan untuk mengurangi rasa sakit di tubuh. 🌿 Teks Doa dan Tata Cara Hadis yang menjelaskan doa ini diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 2202) dari ‘Utsman bin Abil ‘Ash radhiyallahu ‘anhu: “Letakkan tanganmu pada bagian tubuh yang sakit, ucapkan Bismillah tiga kali, kemudian bacalah tujuh kali: أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِن شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ ” Latin: A‘ūdzu billāhi wa qudratihi min syarri mā ajidu wa uhādziru Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan sesuatu yang aku rasakan dan aku khawatirkan.” Tata cara amalan: Letakkan tangan pada bagian tubuh yang sakit. Ucapkan Bismillah sebanyak 3 kali . Bacakan doa di ata...

Tradisi Puasa Putih dan Pantangan Tidak Makan Makanan Bernyawa dalam Pandangan Islam

  Tradisi Puasa Putih dan Pantangan Tidak Makan Makanan Bernyawa dalam Pandangan Islam 1. Apa Itu Puasa Putih? Di tengah masyarakat Indonesia, khususnya sebagian kalangan Jawa dan penganut kepercayaan tradisional, terdapat istilah “puasa putih” . Biasanya puasa ini dilakukan dengan cara hanya memakan makanan berwarna putih seperti nasi, singkong rebus, atau air putih saja. Bahkan ada juga yang menafsirkannya sebagai puasa dengan pantangan makan makanan yang berasal dari makhluk bernyawa , yakni daging, ikan, dan hasil hewani lain. Praktik ini lebih dekat pada tradisi budaya dan spiritual Jawa atau Hindu-Buddha, bukan berasal dari ajaran Islam. Namun, sebagian orang masih memadukannya dengan niat ibadah. 2. Pandangan Al-Qur’an a. Larangan Mengharamkan Apa yang Allah Halalkan Allah ﷻ menegaskan: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan untukmu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyuk...

Konsep Rezeki dalam Islam

  Konsep Rezeki dalam Islam Menurut Al-Qur’an, Sunnah, dan Ulama Salaf Rezeki adalah salah satu tema besar dalam Islam yang sering menjadi perbincangan manusia. Banyak orang menyangka bahwa rezeki hanya terbatas pada harta dan materi, padahal cakupan rezeki menurut syariat jauh lebih luas: kesehatan, ilmu, keluarga, ketenangan hati, bahkan iman dan hidayah termasuk bagian dari rezeki Allah ﷻ. Al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan bahwa rezeki adalah ketetapan dari Allah ﷻ, namun manusia diperintahkan untuk berusaha dengan cara yang halal. Para sahabat Nabi ﷺ dan ulama salaf juga memberikan penjelasan yang mendalam tentang hakikat rezeki agar seorang muslim tidak terjebak dalam sikap putus asa atau lalai terhadap Tuhannya. Rezeki Sudah Ditentukan oleh Allah Allah ﷻ menegaskan dalam banyak ayat bahwa Dialah satu-satunya pemberi rezeki, dan tidak ada makhluk pun yang dapat memberi atau menghalangi kecuali dengan izin-Nya. Allah ﷻ berfirman: وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلّ...

Keutamaan Istighfar

  Keutamaan Istighfar Menurut Al-Qur’an, Hadits Shahih, dan Penjelasan Salaf Setiap manusia tidak pernah lepas dari dosa dan kesalahan, baik kecil maupun besar, disadari maupun tidak. Karena itu, Allah ﷻ membuka pintu ampunan-Nya seluas-luasnya melalui istighfar (permohonan ampun). Istighfar bukan hanya sekadar ucapan “Astaghfirullah” , tetapi sebuah ibadah yang mencerminkan kerendahan hati, pengakuan dosa, penyesalan, serta harapan akan rahmat Allah. Dalam Al-Qur’an, hadits, atsar sahabat, hingga penjelasan ulama salaf, istighfar memiliki kedudukan yang sangat agung. Ia bukan hanya penghapus dosa, tetapi juga pembuka pintu rezeki, penolak bala, bahkan penyebab turunnya rahmat Allah. Keutamaan Istighfar dalam Al-Qur’an Mendapatkan Ampunan dan Kasih Sayang Allah Allah ﷻ berfirman: وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا “Barangsiapa mengerjakan kejahatan atau menzalimi dirinya, kemudian ia memohon ampun ke...

Perbedaan Akidah dan Tauhid dalam Islam

  Perbedaan Akidah dan Tauhid dalam Islam (Berdasarkan Al-Qur’an, Hadits Shahih, dan Penjelasan Ulama Salaf) 1. Definisi Akidah dan Tauhid Akidah berasal dari kata al-‘aqd (العقد) yang berarti ikatan yang kuat. Dalam istilah syar’i, akidah adalah keimanan yang teguh terhadap Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, qadha dan qadar, serta perkara ghaib lainnya yang datang dari Al-Qur’an dan Sunnah. ➡️ Dengan kata lain, akidah adalah keseluruhan sistem keimanan seorang Muslim. Tauhid berasal dari kata wahhada (وحّد) yang artinya mengesakan. Dalam istilah syar’i, tauhid adalah mengesakan Allah dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan asma wa sifat-Nya. ➡️ Tauhid merupakan inti dari akidah Islam. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Pokok agama dan pangkalnya adalah tauhid. Ia adalah hakikat iman yang dengannya Allah mengutus para rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya.” (Madarijus Salikin, 1/69) 2. Dalil Al-Qur’an Tentang akidah secara umum ...

Mengenal Kelompok Aboge: Sejarah, Keyakinan, dan Sikap Kita Menyikapinya

  Mengenal Kelompok Aboge: Sejarah, Keyakinan, Praktiknya di Tengah Masyarakat dan Sikap Kita Menyikapinya Di tengah keragaman budaya dan keyakinan di Indonesia, ada sebuah kelompok keagamaan tradisional yang dikenal dengan Aboge . Nama ini berasal dari singkatan Alif Rebo Wage , yang merujuk pada perhitungan kalender Jawa-Islam yang mereka gunakan. Meskipun bagi sebagian orang dianggap sekadar tradisi lokal, praktik Aboge menyimpan keyakinan yang cukup unik dan bahkan menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Mari kita mengenal sejarah, keyakinan, dan bagaimana Islam memandang fenomena ini. Sejarah Singkat Aboge Aboge muncul dari akulturasi antara ajaran Islam dengan budaya Jawa kuno. Pada masa penyebaran Islam, sebagian masyarakat Jawa masih kuat memegang tradisi Hindu-Buddha dan kepercayaan animisme. Maka, ketika Islam datang, ada sebagian orang yang mencoba menggabungkan ajaran Islam dengan hitungan Jawa kuno. Salah satu wujudnya adalah penggunaan kalender Aboge (Alif...

Birrul Walidain: Jalan Surga Lewat Bakti kepada Orang Tua

  Birrul Walidain: Jalan Surga Lewat Bakti kepada Orang Tua Dalam hidup ini, ada satu pintu kebaikan yang tidak bisa digantikan dengan apa pun: berbakti kepada orang tua . Islam menempatkan birrul walidain di posisi yang sangat tinggi, bahkan Allah menyandingkan perintah berbuat baik kepada orang tua setelah perintah menyembah-Nya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua …” (QS. An-Nisā’: 36) Perhatikan ayat ini. Setelah tauhid, langsung disebut orang tua. Itu artinya, ridha Allah sangat erat dengan ridha mereka. Ibu, Tiga Kali Lebih Utama Ada satu hadits yang sangat terkenal. Seorang sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ: “Siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Lalu sahabat itu bertanya lagi, dan jawabannya tetap: “Ibumu.” Hingga tiga kali. Baru pada yang keempat Nabi ﷺ menjawab: “Ayahmu.” (HR. Bukhari & Muslim) Kenapa...

Mengapa Sebagian Ulama Al-Azhar Berpendapat “Allah di Mana-Mana”? — Telaah dan Tanggapan Berdasarkan Aqidah Salaf

  Mengapa Sebagian Ulama Al-Azhar Berpendapat “Allah di Mana-Mana”? — Telaah dan Tanggapan Berdasarkan Aqidah Salaf Al-Azhar Mesir adalah salah satu lembaga Islam tertua dan paling berpengaruh di dunia Islam. Banyak ulama ternama lahir dari institusi ini. Namun, di dalam hal akidah, terutama dalam pertanyaan “Di mana Allah?” , sebagian besar ulama Al-Azhar masa kini menjawab: “Allah ada di mana-mana” . Pertanyaannya adalah: Mengapa mereka berkata demikian? Apakah itu sesuai dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman salafus shalih? Mari kita telaah. 🧠 Akar Pandangan: Pengaruh Ilmu Kalam Sebagian besar ulama Al-Azhar dalam urusan aqidah merujuk kepada manhaj Asy’ariyah , sebuah mazhab teologis yang lahir bukan pada masa salaf , tetapi muncul pada abad ke-3 hijriyah oleh Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (w. 324 H) . 📌 Apa yang diyakini Asy’ariyah tentang “di mana Allah?”: Mereka menolak Allah berada di atas langit secara hakiki , karena khawatir itu menyerupakan Allah dengan ...

Di Mana Allah? — Jawaban Berdasarkan Al-Qur’an, Hadits Shahih, dan Penjelasan Salaf

  Di Mana Allah? — Jawaban Berdasarkan Al-Qur’an, Hadits Shahih, dan Penjelasan Salaf ✅ Pertanyaan yang Penting dalam Aqidah Pertanyaan “Di mana Allah?” bukanlah pertanyaan yang asing dalam Islam. Bahkan, Rasulullah ﷺ sendiri pernah bertanya kepada seorang budak perempuan: “Ainallah (Di mana Allah)?” Budak itu menjawab: “Di langit (Fis-samā’)” . Rasulullah ﷺ bersabda: “A’taq-ha fa innahā mu’minah” – “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.” (HR. Muslim no. 537) Hadits ini adalah dalil yang sangat kuat bahwa mengenal tempat Allah merupakan bagian dari keimanan . 📖 Jawaban dari Al-Qur’an Al-Qur’an menyebutkan berkali-kali bahwa Allah di atas langit , yaitu di atas ‘Arsy (singgasana-Nya), bukan di mana-mana atau menyatu dengan makhluk. 🔹 1. Allah di atas ‘Arsy الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, yang beristiwa di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5) ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ “Kemudian Dia beristiwa di atas ‘Arsy.” (QS. ...

Agama Paling Masuk Akal di Dunia: Tinjauan dari Berbagai Aspek

  Agama Paling Masuk Akal di Dunia: Tinjauan dari Berbagai Aspek Agama merupakan kebutuhan spiritual manusia yang paling mendasar. Di antara berbagai sistem kepercayaan yang ada, banyak orang mencari agama yang paling masuk akal , yakni agama yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan besar kehidupan secara logis, konsisten, dan komprehensif . Artikel ini mencoba meninjau agama yang paling masuk akal dari beberapa aspek: akal sehat, keselarasan dengan sains, keutuhan ajaran, sumber kitab suci, hingga pengaruhnya terhadap peradaban manusia . 1. Aspek Akal Sehat dan Logika Akal sehat adalah anugerah utama manusia untuk membedakan benar dan salah. Agama yang masuk akal tentu tidak bertentangan dengan logika dasar manusia. Dalam hal ini: Islam mengajarkan bahwa Tuhan itu Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan (QS. Al-Ikhlas: 1–4). Ini sejalan dengan konsep tauhid yang logis dan tidak membingungkan. Tuhan dalam Islam tidak menyerupai makhluk-Nya (QS. Ash-Shura: 11), yang m...