Mengenal Kelompok Aboge: Sejarah, Keyakinan, dan Sikap Kita Menyikapinya
Mengenal Kelompok Aboge: Sejarah, Keyakinan, Praktiknya di Tengah Masyarakat dan Sikap Kita Menyikapinya
Di tengah keragaman budaya dan keyakinan di Indonesia, ada sebuah kelompok keagamaan tradisional yang dikenal dengan Aboge. Nama ini berasal dari singkatan Alif Rebo Wage, yang merujuk pada perhitungan kalender Jawa-Islam yang mereka gunakan. Meskipun bagi sebagian orang dianggap sekadar tradisi lokal, praktik Aboge menyimpan keyakinan yang cukup unik dan bahkan menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Mari kita mengenal sejarah, keyakinan, dan bagaimana Islam memandang fenomena ini.
Sejarah Singkat Aboge
Aboge muncul dari akulturasi antara ajaran Islam dengan budaya Jawa kuno. Pada masa penyebaran Islam, sebagian masyarakat Jawa masih kuat memegang tradisi Hindu-Buddha dan kepercayaan animisme. Maka, ketika Islam datang, ada sebagian orang yang mencoba menggabungkan ajaran Islam dengan hitungan Jawa kuno.
Salah satu wujudnya adalah penggunaan kalender Aboge (Alif Rebo Wage) untuk menentukan hari-hari penting, seperti puasa Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Karena itu, jamaah Aboge sering melaksanakan ibadah pada waktu yang berbeda dari mayoritas umat Islam.
Keyakinan dan Praktik Aboge
Beberapa ciri khas kelompok Aboge antara lain:
-
Menggunakan hitungan Jawa untuk ibadah. Misalnya, awal puasa Ramadan atau Idul Fitri bisa berbeda satu atau dua hari dengan pemerintah atau mayoritas umat Islam.
-
Mencampurkan unsur tradisi dengan agama. Sebagian pengikut masih mengadakan ritual adat yang bercampur dengan keyakinan Islam.
-
Mempercayai ramalan dan hari baik/buruk. Hitungan weton (hari kelahiran) sering dijadikan pedoman hidup, termasuk dalam pernikahan atau acara adat.
Bagi sebagian orang, hal ini dianggap sebagai bagian dari melestarikan budaya. Namun, dari sisi aqidah Islam, ada masalah serius jika keyakinan itu dijadikan sebagai bagian dari agama.
Tanggapan Islam Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah
Islam datang untuk meluruskan tauhid dan membersihkan manusia dari segala bentuk kesyirikan, khurafat, dan keyakinan yang tidak ada tuntunannya.
Allah ﷻ berfirman:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agamamu.”
(QS. Al-Maidah: 3)
Ini menunjukkan bahwa agama Islam sudah sempurna. Tidak boleh ditambah atau dicampur dengan adat dan keyakinan lain.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Barangsiapa membuat perkara baru dalam urusan kami (agama) ini yang bukan darinya, maka perkara itu tertolak.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, segala bentuk ibadah yang tidak ada tuntunannya dalam syariat, termasuk menentukan ibadah berdasarkan hitungan Jawa atau weton, adalah bid‘ah yang tertolak.
Para ulama salaf juga sangat tegas dalam masalah ini. Imam Malik rahimahullah pernah berkata:
“Barangsiapa mengada-adakan dalam Islam suatu bid‘ah dan ia memandangnya baik, maka sungguh ia telah menuduh Muhammad ﷺ mengkhianati risalah. Karena Allah telah berfirman: ‘Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu.’”
Bagaimana Sikap Kita?
Sebagai seorang Muslim, sikap kita terhadap kelompok seperti Aboge adalah:
-
Meneguhkan aqidah tauhid. Jangan terpengaruh oleh tradisi atau keyakinan yang menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah.
-
Memberikan nasihat dengan hikmah. Jika ada keluarga atau tetangga yang masih mengikuti Aboge, ajak mereka dengan cara baik untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni.
-
Menghargai budaya selama tidak bertentangan dengan Islam. Melestarikan bahasa, pakaian, atau seni Jawa boleh saja. Tapi jangan sampai menjadikan tradisi sebagai bagian dari agama.
-
Mengikuti ulil amri dalam ibadah jamaah. Misalnya dalam penentuan awal Ramadan dan Idul Fitri, kita diperintahkan untuk ikut bersama mayoritas kaum Muslimin. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Puasa itu pada hari kalian semua berpuasa, dan Idul Fitri itu pada hari kalian semua berhari raya.” (HR. Tirmidzi)
Penutup
Fenomena kelompok Aboge adalah bagian dari warisan sejarah sinkretisme antara Islam dan budaya Jawa. Namun, dari perspektif Islam yang murni, praktik mereka tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Seorang Muslim sejati seharusnya berusaha meluruskan keyakinannya, hanya beribadah sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ, dan tidak mencampuradukkan agama dengan tradisi yang batil.
Semoga Allah menjaga kita dan keluarga kita agar tetap istiqamah di atas Islam yang benar.
Referensi
-
Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Maidah: 3.
-
Shahih al-Bukhari no. 2697, Shahih Muslim no. 1718.
-
Sunan at-Tirmidzi no. 697.
-
Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, Dar Thayyibah, 1999.
-
Imam Malik dalam al-I‘tisam karya Asy-Syathibi.
-
Beberapa kajian sejarah Islam Jawa dan sinkretisme keagamaan (misalnya: M.C. Ricklefs, Mystic Synthesis in Java).
Komentar
Posting Komentar