Makna dan Kedudukan Sabar dalam Islam

 

Makna dan Kedudukan Sabar dalam Islam

Pengertian Sabar

Sabar (الصبر) secara bahasa berarti menahan. Secara istilah syar’i, sabar adalah menahan diri dalam ketaatan kepada Allah, menahan diri dari maksiat, dan menahan diri dalam menghadapi takdir yang menyakitkan.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Sabar adalah menahan jiwa dari gelisah, lisan dari mengeluh, dan anggota tubuh dari tindakan yang tidak diridhai.”

Kedudukan Sabar dalam Al-Qur'an

Sabar disebutkan lebih dari 90 kali dalam Al-Qur’an, menunjukkan betapa agungnya kedudukan sifat ini.

1. Sabar Sebagai Perintah Langsung dari Allah

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)

Allah memerintahkan untuk bersabar dan menjanjikan kebersamaan-Nya kepada orang yang sabar. Ini adalah tingkatan tertinggi dari pertolongan.

2. Sabar Lebih Baik untukmu

“Dan jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.”
(QS. An-Nahl: 126)

Artinya, pada setiap ujian, pilihan terbaik di sisi Allah adalah sabar, meskipun jiwa ingin segera keluar dari musibah.

3. Pahala Tanpa Batas

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”
(QS. Az-Zumar: 10)

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan: "Segala amal memiliki ukuran dan batas pahalanya, kecuali sabar. Allah sendiri yang akan membalasnya tanpa takaran."

Macam-Macam Sabar

Para ulama membagi sabar menjadi tiga macam utama:

  1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah
    Contoh: Menjaga shalat, menuntut ilmu, puasa, qiyamul lail.

  2. Sabar menjauhi maksiat
    Contoh: Menahan diri dari zina, riba, ghibah, atau syahwat.

  3. Sabar terhadap takdir yang menyakitkan
    Contoh: Kehilangan orang yang dicintai, sakit, kemiskinan, kegagalan.

Imam Ahmad rahimahullah berkata:

“Sabar disebutkan dalam Al-Qur’an pada tiga tempat: dalam menjalankan ketaatan, menjauhi maksiat, dan menerima takdir.”

Tingkatan Sabar yang Paling Tinggi

Sabar memiliki tingkatan-tingkatan. Berikut adalah tingkatan sabar menurut para ulama salaf:

1. Sabar di Atas Jalan Ketaatan (tingkatan menengah)

Menahan diri agar tetap teguh dalam amal shalih walau berat. Ini adalah sifat orang-orang yang istiqamah.

2. Sabar dalam Menghindari Dosa (lebih tinggi)

Karena hawa nafsu dan godaan syahwat kuat, maka sabar untuk meninggalkan dosa lebih berat dari sabar melakukan ibadah.

Ibnu Qayyim berkata:

"Sabar meninggalkan dosa lebih berat daripada sabar dalam ibadah."

3. Sabar terhadap Musibah (biasa terjadi)

Tingkat ini berkaitan dengan ujian lahiriah yang menimpa seseorang. Ia diuji dengan kehilangan, rasa sakit, atau kerugian, namun tetap tenang dan menerima dengan ridha.

4. Sabar Tingkat Tertinggi: Ridha kepada Takdir Allah

Ini bukan sekadar menahan diri, tapi menerima dengan hati lapang dan rasa cinta terhadap keputusan Allah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

"Ridha terhadap takdir adalah derajat tertinggi dari sabar, dan tidak setiap orang mampu mencapainya."


Contoh Keteladanan Sabar dari Para Sahabat

1. Nabi Ayyub ‘alaihis salam

Simbol kesabaran sejati. Diuji dengan penyakit, kehilangan harta dan anak-anaknya, tapi tetap berkata:

"Aku sungguh telah ditimpa musibah, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang."
(QS. Al-Anbiya: 83)

2. Bilal bin Rabah

Disiksa karena keislamannya, dijemur di atas padang pasir, dipaksa mengingkari Allah, tapi ia hanya berkata: “Ahad, Ahad.” (Allah Yang Esa).

3. Khabbab bin Al-Arat

Ditindih besi panas hingga punggungnya melepuh. Ia mengadu kepada Rasulullah, dan Nabi hanya menjawab:

“Sungguh orang sebelum kalian ada yang digergaji kepalanya, tapi dia tetap sabar atas agamanya.”
(HR. Bukhari)


Kesimpulan

Sabar adalah ciri orang yang beriman dan bertaqwa. Ia adalah jalan menuju kemenangan dunia dan akhirat, dan termasuk amal yang pahalanya tidak terhitung. Tingkatan tertinggi dari sabar adalah ridha kepada semua ketetapan Allah, bukan hanya menerima, tapi mencintai dan merasakan hikmah di balik takdir-Nya.

💡 Penutup:

Sabar bukan kelemahan, tapi kekuatan jiwa. Allah tidak menyia-nyiakan amalan orang sabar, sebagaimana firman-Nya:

“Dan sungguh Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.”
(QS. An-Nahl: 96)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memahami Hadis Shahih, Hasan, Dhaif, dan Maudhu

Dzikir Pagi Petang dan Sesudah Shalat Fardhu - Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Benarkah Amalan 3, 7, 40, 100, 1000 Hari setelah kematian Itu Dibenarkan dalam Islam?