Tauhid: Pondasi Islam dan Kunci Keselamatan Abadi

 

Tauhid: Pondasi Islam dan Kunci Keselamatan Abadi

Pendahuluan

Tauhid adalah inti dari Islam. Ia merupakan pondasi yang menjadi dasar diterimanya amal, tujuan utama penciptaan manusia dan jin, serta inti dari dakwah seluruh nabi dan rasul. Tanpa tauhid, seorang hamba tidak akan selamat di akhirat meskipun banyak amal kebaikan yang ia lakukan.

Allah SWT berfirman:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku."
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ibadah yang dimaksud dalam ayat ini tidak lain adalah tauhid—menyembah Allah semata tanpa menyekutukan-Nya sedikit pun. Ini pula yang menjadi dakwah pertama Nabi Muhammad ﷺ ketika beliau diutus kepada kaumnya.


Makna dan Pembagian Tauhid

Makna Tauhid

Secara bahasa, tauhid (التوحيد) berarti mengesakan, yaitu meyakini bahwa sesuatu itu satu dan tidak ada yang menyamainya.
Secara istilah syar’i, tauhid berarti mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-Nya: dalam penciptaan, pengaturan alam, ibadah, serta nama dan sifat-Nya.

Pembagian Tauhid

Para ulama salaf membagi tauhid menjadi tiga bagian, untuk memudahkan pemahaman:

  1. Tauhid Rububiyah
    Mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya, seperti penciptaan, pengaturan, pemberian rezeki, menghidupkan, dan mematikan.

    “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.”
    (QS. Az-Zumar: 62)

  2. Tauhid Uluhiyah (Tauhid Ibadah)
    Mengesakan Allah dalam segala bentuk ibadah: shalat, doa, puasa, zakat, menyembelih, bernazar, dan lainnya.

    “Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
    (QS. Al-Baqarah: 163)

  3. Tauhid Asma’ wa Sifat
    Mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-Nya sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits, tanpa menyimpangkan (tahrif), menolak (ta’thil), menyerupakan (tasybih), atau membagaimanakan (takyif).

    "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar, Maha Melihat."
    (QS. Asy-Syura: 11)


Tauhid: Misi Utama Para Rasul

Tauhid adalah misi dakwah para rasul dari zaman Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad ﷺ.

Allah SWT berfirman:
“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah dan jauhilah Thaghut.’”
(QS. An-Nahl: 36)

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah."
(HR. Bukhari dan Muslim)


Tauhid Adalah Hak Allah yang Paling Agung

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Tauhid bukan sekadar teori, melainkan pengamalan. Menyembah Allah harus dibarengi dengan menjauhi syirik, yaitu menyekutukan Allah dengan selain-Nya. Karena itu, tauhid dan syirik adalah dua kutub yang saling bertolak belakang.


Tauhid Dalam Kehidupan Sehari-hari

Tauhid bukan hanya diyakini di hati, tapi harus diwujudkan dalam amalan lahiriah:

  • Berdoa hanya kepada Allah, tidak kepada orang mati, wali, atau makhluk gaib.

  • Menyembelih hanya untuk Allah, tidak boleh menyembelih untuk jin, leluhur, atau tempat angker.

  • Bersandar hanya kepada Allah, tidak menggantungkan harapan pada jimat, rajah, atau benda keramat.

Allah berfirman:
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”
(QS. Al-Fatihah: 5)


Pentingnya Menjaga Tauhid dari Segala Bentuk Syirik

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya orang yang paling berbahagia dengan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan ‘La ilaha illallah’ dengan ikhlas dari hatinya.”
(HR. Bukhari)

Namun, syirik bisa merusak semua amalan:

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. An-Nisa: 48)

Imam Ibnul Qayyim berkata:

“Tauhid adalah kunci surga, tetapi setiap kunci memiliki gigi-gigi, jika kamu datang dengan kunci yang benar, maka kamu akan dibukakan. Jika tidak, kamu tidak akan dibukakan.”


Tauhid Menurut Para Sahabat dan Ulama Salaf

Para Sahabat

  • Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:
    “Barang siapa yang tidak mengenal syirik, maka ia tidak bisa merealisasikan tauhid.”

  • Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
    “Ucapan La ilaha illallah tidak akan bermanfaat bagi yang mengucapkannya, kecuali ia meninggalkan segala bentuk penyembahan kepada selain Allah.”

Ulama Salaf

  • Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:
    “Dasar Islam adalah tauhid, dan ia adalah permulaan dakwah para rasul.”

  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
    “Tauhid adalah tujuan utama penciptaan manusia dan jin, dan ia adalah inti dari semua kitab samawi.”

  • Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menulis:
    “Tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah. Ia adalah agama yang dengannya Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab.”


Penutup: Keselamatan Hanya dengan Tauhid

Tauhid bukan hanya pintu surga, tapi juga pelindung dari murka dan azab Allah. Ia adalah cahaya yang membimbing hidup seorang muslim dalam setiap langkahnya.

Allah berfirman:
“Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia beramal saleh dan tidak mempersekutukan seorang pun dalam ibadah kepada Tuhannya.”
(QS. Al-Kahfi: 110)

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, maka ia akan masuk surga.”
(HR. Muslim)


Kesimpulan

Tauhid bukan sekadar pelajaran teoretis, tapi amalan hati, lisan, dan perbuatan. Memahaminya adalah kewajiban, mengamalkannya adalah kebutuhan, dan menjaganya adalah jalan keselamatan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memahami Hadis Shahih, Hasan, Dhaif, dan Maudhu

Dzikir Pagi Petang dan Sesudah Shalat Fardhu - Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Benarkah Amalan 3, 7, 40, 100, 1000 Hari setelah kematian Itu Dibenarkan dalam Islam?